Oleh:
Aziz Eko Indarto
Windi Lidyaningsih
Revolusi merupakan suatu upaya perubahan total dalam bidang tertentu, yang disebabkan oleh berbagai hal. Kaitannya dengan politik, revolusi biasanya terjadi karena suatu pemerintahan dipimpin oleh pemimpin yang otoriter dan telah memimpin sangat lama, namun tidak bisa memberikan kesejahteraan dan solusi bagi masalah yang dihadapi rakyat. Korupsi dan nepotisme juga biasa menjadi salah satu pemicu lain terjadinya revolusi.
Pada penghujung tahun 2010 hingga awal tahun 2011, kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah mengalami pergolakan politik yang dikenal dengan nama Arab’s Spring atau Jasmine Revolution (Revolusi Melati). Istilah ini dikenal karena pergolakan politik yang terjadi di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah itu bagaikan bunga melati yang sedang mekar. Peristiwa ini merupakan peristiwa besar dan baru pernah terjadi di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Dimana sebuah pemerintahan jatuh karena demokratisasi, sebab biasanya penggulingan pemerintahan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara berlangsung melalui kudeta.
Revolusi Melati dimulai di Tunisia, sebagai upaya menumbangkan rezim Zine El-Ebidine Ben Ali yang telah berkuasa selama 24 tahun, namun tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Tingkat pendidikan di Tunisia memang baik namun kurangnya lapangan pekerjaan membuat Tunisia memiliki banyak pengangguran yang menyebabkan terjadinya kesenjangan sosial dan ekonomi. Selain itu, Zine El-Ebidine Ben Ali juga dinilai telah banyak melakukan korupsi dan nepotisme, penimbunan minyak serta banyaknya anggota keluarga Ben Ali yang menduduki posisi yang berpengaruh dalam percaturan politik Tunisia menjadi salah satu bukti nyata. Pemberlakuan partai tunggal juga menjadi kebijakan Ben Ali untuk melanggengkan kekuasaannya. Faktor-faktor inilah yang kemudian memicu frustasi rakyat Tunisia hingga akhirnya menuntut adanya revolusi di Tunisia.
Peristiwa itu dimulai ketika seorang pedagang sayur, Bouzizi, penjual sayuran melakukan demonstrasi dengan cara membakar diri di depan kantor gubernur, hal ini disebabkan perampasan aparat terhadap barang dagangannya dan melarang berjualan tanpa alasan yang jelas, serta tidak memberikan solusi yang jelas. Kejadian ini pun kemudian tersebar di dunia maya dan memicu masyarakat Tunisia untuk melakukan demonstrasi besar-besaran. Hingga akhirnya berhasil menggulingkan kekuasaan Zine El-Ebidine Ben Ali.
Peran media massa, baik cetak maupun elektronik dalam menyebarkan informasi mengenai peristiwa bakar diri Muhammad Bouzizi turut memberi andil dalam terjadinya revolusi diberbagai negara, seperti Aljazair, Mesir, Yaman, Bahrain, Libya, dan negara-negara lain di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Kesenjangan sosial, ekonomi dan pemerintahan yang otoriter di berbagai negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara menjadikan keberhasilan revolusi di Tunisia sebagai motivasi negara-negara tersebut untuk melakukan revolusi. Meskipun pada akhirnya tidak semua negara berhasil dalam upayanya melakukan revolusi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar